Agenda di Edinburg

Kunjungan kehormatan kepada Lord Provost (Walikota) Edinburg

 

Gubernur DIY, Hamengku Buwono X dan Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti melakukan kunjungan kehormatan kepada Lord Provost (Walikota) Edinburgh Frank Ross pada 19 Maret 2018 di City Chamber, Edinburgh. Pada pertemuan tersebut, Gubernur DIY menyampaikan harapannya untuk dapat belajar dari pengalaman Edinburgh dalam pelestarian bangunan heritage dan wilayah bersejarah yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

Pada tahun 1995, UNESCO memasukkan Kawasan Old Town dan New Town di Edinburgh sebagai situs warisan budaya dunia (World Heritage Sites). UNESCO menyatakan dua area tersebut sebagai situs yang “memadukan dua fenomena urban luar biasa: pertumbuhan alami jaman pertengahan dan tata ruang kota abad 18 dan 19”.Kawasan New Town didominasi oleh bangunan-bangunan bergaya arsitektur Georgian yang dibangun pada sekitar abad ke-18. Sedangkan Kawasan Old Town memiliki banyak tempat bersejarah seperti Edinburgh Castle, St. Giles Cathedral dan Holyrood Palace.

Menanggapi hal tersebut, Lord Provost Edinburgh menyampaikan bahwa salah satu kunci keberhasilan Edinburgh dalam pelestarian Kawasan heritage adalah karena peran aktif elemen masyarakat yang mencintai kotanya.

Edinburgh memiliki tiga institusi masyarakat yang berperan aktif dalam usaha pelestarian kawasan bersejarah, yaitu: Edinburgh Urban Design Panel yang terdiri dari para arsitek yang secara rutin memberikan masukan dan mengkaji rencana pembangunan kota; Cockburn Association yang secara aktif melakukan kampanye dan penyadaran publik tentang pentingnya pelestarian Kawasan heritage; dan Edinburgh World Heritage yang memiliki banyak pakar di bidang heritage.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur DIY juga menyampaikan keinginannya untuk dapat belajar dari pengalaman Edinburgh tentang bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan pelestarian wilyah heritage, kepentingan ekonomi, kepentingan masyarakat maupun kepentingan pemerintah. Menurut Gubernur DIY, banyaknya pengunjung yang mengunjungi kawasan bersejarah pada akhirnya akan menarik pebisnis untuk datang dan berinvestasi. Sementara perubahan fungsi perumahan di kawasan heritage menjadi area komersil seperti penginapan berpotensi mengubah tatanan sosial di wilayah tersebut, Lord Provost Edinburgh mengungkapkan bahwa tantangan yang sama juga dihadapi Edinburgh. Sebagai contoh, saat ini Pemerintah Edinburgh berencana membangun jalan raya melalui beberapa bagian dari kawasan bersejarah. Pembangunan ini merupakan aspirasi dari penduduk dan pengusaha di wilaah tersebut untuk memudahkan mobilitas dan kegiatan ekonomi. Namun rencana ini menghadapi tantangan dari kelompok pemerhati kawasan bersejarah karena dikhawatirkan akan merusak Kawasan heritage, tidak hanya fisik bangunannya, namun juga hubungan sosial masyarakatnya. Untuk menengahi hal tersebut, Lord Provost Edinburgh menekankan pentingnya membangun dialog dengan semua pihak agar pembangunan menghasilkan hasil yang maksimal bagi masyarakat.

Kedua pihak sepakat untuk terus membangun komunikasi untuk menjajaki kerja sama di bidang tata kota dan pelestarian Kawasan heritage, serta saling belajar dari pengalaman satu sama lain.
 
Pertemuan antara dinas teknis
 

Kunjungan kehormatan dilanjutkan dengan pertemuan teknis antara dinas terkait. Pemda DIY pada kesempatan tersebut diwakili oleh Kepala Bappeda DIY, Drs. Tavip Agus Rayanto, M.Si. dan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Drs. Krido Suprayitno, SE., MSi. Turut hadir pula pada pertemuan tersebut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip DIY, Monika Nur Lastiyani dan perwakilan Badan Kerjasama dan Penanaman Modal DIY. Adapun dari pihak PEmerintah Edinburgh diwakili oleh Kepala Penanaman Modal dan Hubungan Internasional, Elaine Ballantyne dan Kepala Divisi Perencanaan, dan Pembangunan Ekonomi, John Inman.

Perwakilan Pemerintah Edinburgh pada kesempatan tersebut menyampaikan mengenai informasi mengenai gambaran besar perencanaan tata kota, perlindungan Kawasan bersejarah, dan sistem transportasi di Edinburgh.

Pada pertemuan tersebut perwakilan Pemda DIY menyampaikan mengenai rencana merehabilitasi Kawasan Malioboro sebagai salah satu Kawasan heritage di DIY. Pemda DIY berharap dapat belajar dari pengalaman Kota Edinburgh dalam merawat dan menjaga Kawasan Royal Mile. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan mengenai keinginan Pemda DIY untuk dapat mengundang ahli penataan Kawasan heritage dari Edinburgh ke Yogyakarta untuk membantu Pemda DIY melakukan penataan Kawasan Malioboro.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan Pemerintah Edinburgh menyambut baik maksud Pemda DIY. Perwakilan Pemerintah Edinburgh juga menyampaikan bahwa dokumen detail rencana pembangunan, arah kebijakan pelestarian kota tua, serta rencana pengembangan sistem transportasi kota Edinburgh dapat diakses pada website Pemerintah Kota Edinburgh. Pemerintah Edinburgh juga menyambut positif rencana Pemda DIY untuk mendatangkan ahli dari Edinburgh. Namun demikian, pihak Pemerintah Edinburgh membutuhkan detail informasi lebih lanjut supaya dapat mengirimkan ahli yang tepat.
 
Meninjau Kawasan Old Town, Edinburgh
 

Selain melakukan kunjungan kehormatan kepada Lord Provost Edinburgh dan pertemuan dengan jajaran teknis Pemerintah Edinburgh, Delegasi Gubernur DIY juga meninjau Kawasan Old Town Edinburgh.Tur dipandu oleh Bapak Benjamin Tindal, seorang arsitek dan ahli bangunan bersejarah di Edinburgh.

Rute Tur Old Town: Berjalan kaki ke Outlook Tower, The Hub, Lawnmarket, Riddles Court, St Giles, Law Courts, The Fringe, High Street, John Knox House, Tweeddale Court, Canongate, Museum of Edinburgh, Acheson House (EWHT), Parliament, The Queen's Gallery, café.

Edinburgh memiliki sistem transportasi publik yang sangat baik yang ditujukan untuk melayani tidak hanya penduduk setempat, namun juga para wisatawan yang berkunjung. Sistem transportasi ini mengintegrasikan bus yang dioperasikan oleh operator utama Lothian Buses dengan layanan tram yang dioperasikan oleh Ediburgh Trams Ltd.

Secara geografis Edinburgh terletak di bagian Lothian, muara sungai Forth (Firth of Forth), merupakan wilayah pantai timur Skotlandia. Kota yang berpenduduk sekitar 464.000 jiwa pada tahun 2014. Edinburgh memiliki dua area yang dikenal dengan nama Old Town (Kota Lama) di bagian atas dan New Town (Kota Baru) di bagian bawah yang dipisahkan oleh Princess Street Garden. Di area Old Town terdapat tempat-tempat bersejarah seperti Edinburgh Castle, St. Giles Cathedral dan Holyrood Palace. Sedangkan di New Town didominasi oleh bangunan-bangunan bergaya arsitektur Georgian yang dibangun pada sekitar abad ke-18.

Pada tahun 1995, UNESCO memasukkan Old Town dan New Town sebagai situs warisan budaya dunia (World Heritage Sites). UNESCO menyatakan dua area tersebut sebagai situs yang “memadukan dua fenomena urban luar biasa: pertumbuhan alami jaman pertengahan dan tata ruang kota abad 18 dan 19”

Pemerintah Kota Edinburgh melakukan serangkaian upaya untuk melestarikan kawasan Old Town dan New Town. Sebagai contoh, jalan yang terbuat dari bebatuan yang membelah bangunan-bangunan cantik berusia ratusan tahun masih dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Selain memperkuat karakter kawasan, upaya-upaya tersebut menjadikan Edinburgh memiliki perpaduan unik antara tata kota jaman pertengahan dengan tata kota modern.

Dalam rangka memanjakan warga dan wisatawan yang berkunjung untuk menikmati keindahan tata kota Edinburgh, Pemerintah setempat menyediakan sarana transportasi publik yang sangat nyaman. Integrasi antara bus perkotaan yang dioperasikan oleh operator utama Lothian Buses dengan layanan tram yang dioperasikan oleh Edinburgh Trams Ltd menjadikan pilihan moda transportasi yang tidak hanya unik, namun juga beragam.

Pengelolaan transportasi yang baik, armada yang memadai, serta jaringan infrastruktur yang tertata rapi menjanjikan pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan yang berkunjung untuk menikmati keindahan Edinburgh. Di ruas jalan tertentu seperti Princess Street, mobil pribadi bahkan tidak diperbolehkan melintas. Hanya bis, taksi, sepeda dan para pejalan kaki yang dapat berlalu lalang di jalan tersebut dengan bebas.

Pada kesempatan peninjauan Kawasan Old Town, delegasi Gubernur DIY juga menyempatkan diri untuk melakukan pertemuan dengan perwakilan Cockburn Association dan Edinburgh World Heritage.

 

Agenda di London

Pertemuan dengan Dubes RI di London

 

Pada pertemuan dengan Dubes RI London, Gubernur DIY menyampaikan maksud kedatangannya ke Inggris, yaitu dalam rangka mempelajari tata kota dan pelestarian Kawasan bersejarah dari Pemerintah Kota Edinburgh, serta dalam rangka menghadiri peluncuran digitalisasi 75 manuskrip Jawa kuno di British Library.

Dubes RI London menyambut baik kunjungan kerja delegasi Gubernur DIY ke Inggris. Dubes RI London juga menyampaikan mengenai keyakinannya akan efektifitas Kebudayaan sebagai alat untuk mempererat hubungan antara Indonesia – Inggris. Pada kesempatan tersebut, Dubes RI London menyampaikan mengenai berbagai inisiatif yang dilakukan oleh kedutaan besar dalam mempromosikan Kebudayaan Indonesia di UK, diantaranya: pelatihan gamelan dan wayang, penyelenggaraan festival budaya, pengajaran bahasa Indonesia, dsb.

Pada kesempatan tersebut, Dubes RI London menyampaikan keinginannya agar Pemda DIY dapat mendukung upaya Kedutaan Besar RI London dalam mempromosikan Kebudayaan Indonesia kepada masyarakat Inggris. Salah satu dukungan yang diharapkan dalam waktu dekat adalah penyediaan pakaian adat untuk keperluan acara promosi Kebudayaan di Kedutaan Besar RI London.

Gubernur DIY menyambut baik permohonan Dubes RI London, dan menyampaikan beberapa contoh dukungan yang pernah dilakukan Pemda DIY atas upaya diplomasi budaya Indonesia di luar negeri.

Peluncuran Digitalisasi 75 Manuskrip Jawa Kuno di British Library

 

Awal mula inisiasi kunjungan ke British Library terjadi pada bulan November 2017, saat Duta Besar Inggris untuk Indonesia Bapak Moazzam Malik beserta Bapak SP. Lohia, dan Bapak Prof. Dr. Petter Carry berkunjung menemui Gubernur DIY, dan menyampaikan mengenai rencana kegiatan digitalisasi Javanese Manuscript.

Kegiatan digitalisasi tersebut akan dilaksanakan pada bulan Maret 2018 sampai Maret 2019. Pembukaan kegiatan digitalisasi diadakan di British Library, dan penyerahan hasil digitalisasi direncanakan akan diadakan di Yogyakarta.

Sebelum acara peluncuran program digitalisasi dimulai, rombongan diajak untuk meninjau display manuskrip Jawa dari Yogyakarta yang akan didigitalisasi di Print Room, British Library. Selanjutnya delegasi dipandu memasuki Harey Room, British Library untuk mengikuti rangkaian acara peluncuran.

Acara peluncuran dimulai dengan pembacaan Serat Jaya Lengkara Wulangoleh Bapak Sujarwo Joko Prehatin, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive British Library dan sambutan dari Gubernur DIY.

Pada sambutannya Gubernur DIY menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada jajaran British Library, serta menyampaikan harapannya agar digitalisasi naskah ini dapat turut mengisi upaya menyatukan potongan-potongan sejarah Yogyakarta yang hilang.

 

Foto – Foto Kegiatan

Pertemuan dengan Lord Provost Edinburgh

Pertemuan antara dinas teknis

Meninjau kawasan Kota Tua Edinburgh

Usai pertemuan dengan Dubes RI London

Acara peluncuran program digitalisasi manuskrip asal Yogyakarta di British Library (1)

Acara peluncuran program digitalisasi manuskrip asal Yogyakarta di British Library (2)