Sama-sama dikenal sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan, menjadikan Victoria (negara bagian Australia)  tertarik untuk menjalin kerjasama dengan Yogyakarta. Keinginan tersebut direalisasikan melalui penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama atau Memorandum of Understanding (MoU) oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Premier Daniel Andrews. Dalam rangka menindaklanjuti MoU tersebut Victoria mengajak DIY untuk kerjasama di beberapa bidang, salah satunya bidang pendidikan.

Oleh karena itu, pada tanggal 1 Agustus 2018 Pemerintah Victoria berkunjung ke Yogyakarta untuk bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan DIY, Bapak Drs. Kadarmanto Baskoro Aji, guna membahas program Victoria Young Leader to Indonesia, program tersebut merupakan program kunjungan singkat selama 6 (enam) minggu ke Indonesia yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya dan Bahasa Indonesia kepada siswa-siswi kelas 9 dari sekolah menengah di Victoria, Australia. Program tersebut akan dilaksanakan pada September 2019 mendatang, Victoria akan mendatangkan 40 siswa usia 15 tahun atau setingkat siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) beserta gurunya ke DIY. Kunjungan tersebut ditujukan untuk melakukan Program Percontohan Pemimpin Muda di Indonesia, yang akan dilaksanakan di beberapa SMP terpilih selama 6 minggu.

Di era yang semakin global, hubungan lintas negara akan sangat mendukung bagi pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia. Sehingga program pertukaran pelajar tersebut juga akan sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak. Khusus bagi pelajar di DIY, dapat memanfaatkan kegiatan tersebut guna mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris mereka serta pemahaman multikultur melalui interaksi yang terjalin. Sedangkan manfaat jangka panjang yang dapat digali dari kegiatan tersebut yaitu terjalinnya hubungan kerja sama antara Victoria dan Indonesia, khususnya Yogyakarta, di bidang lain selain bidang pendidikan dan budaya.

Program pertukaran pelajar ini merupakan pilar utama MoU antara Victoria dengan DIY, sehingga keberhasilan program ini akan menjadi penting untuk kerja sama yang lebih luas. Apabila program ini berjalan sesuai dengan harapan, kegiatan serupa juga akan diadakan kembali pada tahun berikutnya, bahkan ada kemungkinan untuk diperluas ke tingkat Sekolah Dasar (SD). Menurut pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal, agenda tersebut akan dilakukan di beberapa SD termasuk SD non-favorit agar manfaat program tersebut dapat dirasakan secara merata.

Singkatnya, kegiatan pertukaran pelajar tersebut dilaksanakan untuk memberikan dampak positif bagi kedua pihak yang terlibat. Dengan sikap kooperatif kedua pihak, program ini akan berhasil membuka kesempatan untuk menjalin hubungan yang lebih luas, salah satunya dalam bidang ekonomi. Apabila hal ini dapat diwujudkan, dampak yang diharapkan adalah kesejahteraan masyarakat luas.