Yogyakarta (24/08/2018) jogjaprov.go.id – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan akan terus sinergi bekerja sama dengan Kyoto, Jepang. Hal ini disampaikan usai menerima kunjungan kehormatan Wakil Gubernur Kyoto  Shuici Yamauchi beserta rombongan di Gedhong Wilis,  Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (24/8).

Kerja sama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Prefektur Kyoto sebagai sister city akan memasuki tahun ke-35 pada tahun 2020. Wakil Gubernur Prefektur Kyoto, Shuichi Yamauchi, bersama delegasi melakukan kunjungan ke DIY pada 23-25 Agustus 2018 untuk memperingati kerja sama tersebut.

Oleh karena itu, tepatnya pada pertengahan 2020 nanti, pemerintah Kyoto akan mengadakan sebuah acara penyambutan. Pihaknya menginginkan adanya kesenian dari Jogja untuk bisa dikirimkan ke Kyoto. Tidak hanya kesenian, pemerintah Kyoto juga melirik pengrajin yang bisa dikerjasamakan lebih lanjut. Terkait lokasi peringatan kerjasama yang ke-35 Jogja-Kyoto belum disepakati.

“Pemda DIY akan mendiskusikan lebih jauh setelah ini. Namun harapannya tidak hanya itu, tetapi juga ke arah investasi dan komunikasi antar pengusaha. Nantinya peluang masyarakat  dan pengusaha lebih besar,” ucap Gubernur.

Investasi, akan menfokuskan pada strategi pada pembangunan bandara NYIA dan pembangunan infrastuktur Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar). Itu sudah tidak bisa bicara geografis namun Joglosemar menjadi satu kesatuan pengembangan dan bisa saling bersinergi.

“Saya kira itu pilihan-pilihan yang memang harus kita lakukan, karena sudah menjadi satu kesatuan,” lanjut Gubernur Yogyakarta.

Menurut Sekda DIY Ir. Gatot Saptadi, kerja sama kedepan tidak hanya berfokus pada pendidikan dan kebudayaan. Namun, lebih mengembangkan produk-produk kreatif.

Gubernur Yogyakarta juga mengimbau untuk bisa dikomunikasikan dengan baik. Gubernur menginginkan tidak hanya tukar menukar pendidikan dan kebudayaan. Lebih kepada untuk kesejahteraan masyarakat,” jelas Sekda DIY.

Sekda DIY juga menuturkan, rencana ini diharuskan bisa bersinergi dengan pihak-pihak lain. “Seperti KADIN, UKM perguruan tinggi, dll. Agar semua komponen potensinya bisa disinkronkan,” pungkasnya.

Dalam kunjungannya Delegasi Kyoto juga bertemu dengan pihak UGM. Delegasi tersebut kemudian diterima oleh UGM melalui Kantor Urusan Internasional (KUI) di Kantor Majelis Wali Amanat UGM pada Jumat (24/8) siang. Tujuan dari kunjungan ini adalah upaya penjajakan untuk menjalin kerja sama di bidang pendidikan dengan Prefektur Kyoto.

Shuici mengingatkan bahwa dahulu kerja sama kedua wilayah memiliki kesamaan kondisi sosial dan lingkungannya. Kyoto, sebutnya, sama seperti Yogyakarta terkenal sebagai kota pendidikan karena jumlah mahasiswanya yang banyak. Selama 35 tahun ini dengan kondisi yang tidak jauh berbeda, ia ingin melihat perkembangan di Yogyakarta.

Selain itu, Shuichi juga menyebutkan bahwa Kyoto sekarang mengarahkan perhatiannya pada perawatan bangunan peninggalan sejarah yang tersisa di sana. Menurutnya, hal itu sama dengan Yogyakarta yang juga memiliki bangunan bersejarah.

Ia pun menawarkan kerja sama dalam upaya perawatan bangunan peninggalan sejarah ini kepada UGM.

Terakhir, ketika bencana gempa bumi di Lombok muncul dalam pembahasan, Shuichi mengingat bahwa Kyoto pun juga termasuk salah satu daerah yang sering terdampak gempa bumi. Hal itu termasuk salah satunya yang menyebabkan Tsunami pada 2011.

Ia pun juga menawarkan kerja sama kepada pihak UGM jika tertarik dalam upaya pencegahan bencana gempa bumi. Hal itu mengingat Jepang menjadi salah satu negara dengan pencegahan bencana gempa bumi terbaik di dunia.

 

Sumber : Humas Pemda DIY dan Humas UGM