BKPM DIY

HOTEL SANTIKA GUBENG

Surabaya, 18 Juli 2018

 

Badan Kerjasama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY mengadakan Temu Investor di Hotel Santika Gubeng Surabaya. Temu Investor dengan tema Membangun Ekosistem Industri Kreatif Sektor Kuliner untuk Mendukung Perekonomian Nasional ini menghadirkan beberapa narasumber diantaranya Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif RIOwner Omah Kecebong Yogyakarta, Ketua KADIN Surabaya serta Kepala BKPM DIY. Temu Investor ini dihadiri oleh kurang lebih 50 peserta yang diantaranya terdiri dari pelaku usaha UKM industri kreatif sektor kuliner dari Surabaya Creative City Forum (SCCF), unsur pemerintah daerah beserta KADIN Surabaya.

Temu Investor ini diantaranya bertujuan untuk membuka peluang-peluang dan jejaring yang dapat dibangun dan dipertukarkan antar pelaku industri di DIY dan Jawa Timur. Titik berat sektor yang diangkat kali ini adalah sektor industri kreatif kuliner. Mengapa industri kuliner ? Indonesia saat ini memasuki era kebangkitan kuliner lokal. Di berbagai kota besar di tanah air kerap berlangsung festival kuliner. Masyarakat sangat antusias menyaksikan pertunjukan yang memamerkan kekayaan kuliner nusantara ini. Ada yang datang sekedar melihat-lihat saja, namun tidak sedikit pengunjung memanfaatkannya menjadi peluang bisnis. Hal yang sama, acara-acara kuliner tetap menarik untuk ditonton di sejumlah TV swasta. Di sisi lain, pengunjung restoran misalnya setelah menikmati makanan kesukaannya gemar memamerkan foto-foto menu kesukaannya di media sosial. Fenomena – fenomena inilah yang sedikit banyak menjadi tanda kebangkitan tersebut.

Industri kuliner memiliki potensi besar di Indonesia untuk terus berkembang. Seyogyanya pemerintah harus mencoba memaksimalkan ekosistem dalam industri kuliner Indonesia yang dibagi menjadi beberapa aspek. Aspek tersebut adalah pengembangan sumber daya manusia, permodalan, pemasaran, hak kekayaan intelektual, dan infrastruktur. Masalah baru lain akan segera menghadang ketika percepatan konektivitas diwujudkan pada pasar tunggal masyarakat ASEAN. Menghadapi MEA yang sudah berlaku sejak Januari 2016, kuliner lokal masih dibiarkan bersaing dengan koleganya yang berasal dari sejumlah negara maju tanpa proteksi. Pelaku kuliner lokal yang dibebani berbagai masalah harus bersaing dengan kuliner asing yang dikelola secara franchise menikmati berbagai fasilitas mulai dari permodalan, sarana dan prasarana, pelatihan teknologi dan inovasi kemasan, dan akses informasi pasar terkini.

      Era globalisasi membawa pengaruh masuknya berbagai produk negara-negara lain ke Indonesia, tak terkecuali makanan. Sebagian besar masyarakat di kota-kota besar, khususnya dari generasi muda sudah tidak asing lagi dengan berbagai jenis hidangan makanan dari negara lain. Makanan asal Italia, yakni pizza, juga sushi, hidangan dari Negeri Sakura menjadi favorit anak muda kini. Selain di kawasan Ibu Kota, sushi ternyata juga digandrungi kalangan muda di kota besar lainnya.

     Oleh karena itu, pemerintah patut memfasilitasi kegiatan ekonomi kreatif kuliner secara lebih serius karena bertujuan membuka jaringan kerja sama, memberikan ide baru terkait usaha kuliner yang berbahan baku lokal, dan terutama memperkenalkan budaya makanan nusantara ke tingkat global. Setiap makanan lokal bisa menjadi duta bagi bangsa. Semakin banyak orang mengenal masakan nusantara, mereka akan penasaran dan diharapkan akan datang ke Indonesia untuk menikmati kekhasan kulinernya.

Menyikapi berbagai fenomena ini serta menyadari potensi industri kuliner lokal maka Pemerintah Daerah DIY melalui BKPM DIY berupaya untuk membangkitkan industri kreatif lokal dengan berupaya membangun jejaring bisnis termasuk dengan pengusaha – pengusaha kuliner Surabaya.

Salah satu narasumber yaitu Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif RI menyatakan bahwa hal yang penting adalah membangun ekosistem industri kreatif local. Potensi di setiap daerah pasti ada, namun yang paling penting adalah membangun ekosistem pendukungnya. Yogyakarta memiliki ekosistem pendukung yang kuat dikarenakan statusnya sebagai kota pendidikan dan pariwisata. BEKRAF juga telah melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan salah satu sektor industry kreatif ini.

Senada dengan hal tersebut Kepala BKPM DIY, Bapak Arief Hidayat juga mengedepankan potensi pertumbuhan sektor industry kuliner DIY yang berkembang pesat dan sangat potensial. Walaupun demikian, kebutuhan untuk berjejaring itu sangatlah penting untuk semakin memperkuat ekosistem yang ada. Sebagai success story, Owner Omah Kecebong juga menyampaikan mengenai ekosistem industri kuliner Yogyakarta yang sangat potensial untuk perkembangan bisnis yang ditopang oleh kekuatan sebagai pusat pendidikan dan pariwisata. Berbisnis kuliner di Yogyakarta sangatlah menguntungkan.

Diharapkan bahwa kegiatan ini dapat membuka peluang kerjasama bisnis dan membangun jejaring para pelaku industri kuliner Yogyakarta dan Surabaya.